Permabuddhi Kepri Gelar Peringatan Tri Suci Waisak 2568 TB/2024 

Penulis :

Jurnalutama.com (Tanjungpinang) – Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabuddhi) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menggelar peringatan Tri Suci Waisak 2568 TB/2024  dengan mengambil tema “Kesadaran Keberagaman Jalan Hidup Luhur Harmonis dan Bahagia”.

Terpantau, ribuan umat Budha mengikuti acara ini dengan penuh khikmad, di Jalan Merdeka Tanjungpinang, Jumat (31/5/2025) malam.

Acara ini dihadiri Pj Walikota Tanjungpinang Andri Rizal Siregar dan berkesempatan memperkenalkan diri sebagai Kepala Daerah yang baru saja dilantik Gubernur Kepri Ansar Ahmad. 

Andri Rizal mengucapkan selamat merayakan Hari Tri Suci Waisak 2568 tahun Buddhis kepada seluruh umat Budha khususnya yang berada di Tanjungpinang.

“Kesempatan ini juga saya sekaligus memperkenalkan diri sebagai Penjabat Walikota Tanjungpinang yang telah dilantik oleh Gubernur Kepri pagi tadi, dengan harapan dukungan, sinergi, kerjasama bersama persatuan umat Buddha untuk membangun Kota Tanjungpinang,” ujarnya dalam sambutan.

Dikatakan Andri, perayaan Waisak bagi umat Buddha merupakan wujud meneladani Sidharta Buddha Gautama, yang mana ajarannya mengajak umatnya untuk membangun kedamaian, menjaga alam semesta, memelihara lingkungan serta mengajarkan akan pentingnya akhlak etika dan moral.

“Perayaan Hari Tri Suci Waisak merupakan salah satu contoh bagaimana berjalan dengan baik di Kota Tanjungpinang terlebih dalam waktu dekat pesta demokrasi akan berlangsung sehingga dapat berjalan aman dan lancar, ” jelasnya.

Lebih lanjut, Mari sama-sama menjaga serta merawat daerah ini, dengan kedamaian dan kesejukan tanpa adanya gejolak yang dapat memecahkan rasa persatuan dan kesatuan,” katanya.

Dikesempatan yang sama, Ketua PD Permabuddhi Provinsi Kepri Hengky Suryawan menerangkan pihaknya setiap tahun selalu berkumpul bersama majelis, ini adalah satu sejarah bagi umat Buddha.

“Walaupun kita beragam etnis kita harus bersatu, oleh karena itu mari kita jaga bersama, marilah seluruh umat Budha khususnya kita harus bersatu,” ucap Hengky.

Disisi lain, Biksu Bhante Ratanajayo menjelaskan dengan keberagaman yang begitu indah ini berkaitan dengan jalan hidup luhur, luhur berarti tinggi atau mulia, mereka yang mulia adalah orang yang mampu memuliakan orang lain mereka dan mengasihi orang lain ajaran Sang Buddha penuh dengan cinta kasih.

“Oleh karena itu mari kita semua senantiasa mengembangkan Meta dalam bentuk cinta kasih kepada semua makhluk demikian pula di dalam masyarakat apabila kita senantiasa hidup rukun damai dan harmonis maka kebahagiaan dapat kita raih,” tuturnya.

(*/Rat

Komentar