Proyek Objek Wisata Sangkar Burung Kabupaten Siak Diduga Akal-akalan Meraup Keuntungan

Penulis :

“Objek Wisata Sangkar Burung Kabupaten Siak Diduga Jadi Sarang Korupsi, Hanya Tinggal Kenagan.”

Jurnalutama.com (Riau) – Pemerintah Kabupaten Siak membangun Objek Wisata Sangkar Burung di wilayah Kecamatan Merpan sebagai kebanggan masyarakat menjadi salah satu Objek Wisata dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam mingkatkan pembangunan sesuai Visi Misi Bupati yang terdahulu dan sekarang menjadi pejabat teras di Provinsi Riau. Senin (05/06/23).

Di tahun 2014 Bupati Samsuar programkan pembangun Objek Wisata Sangkar Burung dengan nilai anggaran sesuai dengan RUP pemeritah Kabupaten Siak 276612 pembangunan Taman Burung Rp 2.000.000.000 yang dikerjakan CV. Nafa Jaya Perkasa dengan harga penawaran Rp. 1.799.468.000, dalam hal itu juga pemerintah Kabupaten Siak melanjutkan pembangunan Objek Wisata Sangkar Burung dengan kode lelang 2846309.

Lanjutan Pembangunan Objek Wisata Taman Burung dengan pagu Rp. 1.449.962.000 dari hasil Lelang Proyek Sistem Elektronik (LPSE) Kabupaten Siak, bahwa pihak ketiga untuk pelaksana proyek dikerjakan CV. Kayang Perkasa dengan harga penawaran Rp. 1.200.720.000, seiring berjalannya waktu pembangunan dengan operasional Objek Wisata tersebut di tahun 2019.

Dinas Pariwisata Kabupaten Siak melaksanakan kegiatan biaya penilaian objek kerja sama pemanfaatan KSP Taman Burung dengan RUP 21631564 besar pagu yang dianggarakan Rp. 35.000.000, bangunan Objek Wisata tersebut hanya sia-sia menghabiskan anggaran dan tidak berfungsi sampai sekarang. Sementara masyarakat masih membutuhkan adanya Objek Wisata yang dapat di nikmati seluruh warga, baik yang berkunjung ke Kabupaten Siak.

“Mencermati kinerja Pemkab Siak dalam pembangunan Objek Wisata dengan dalih pembangunan Sangkar Burung tersebut diduga hanya akal-akalan dan terkesan menghambur-hamburkan uang rakyat yang menghabiskan anggaran hingga Miliaran Rupiah, namun hingga sampai saat ini proyek Sangkar Burung untuk Objek Wisata itu tidak berfungsi, ” ungkap Sharundin selaku Ketua DPC Forkorindo Kabupaten Siak.

Selain itu, Ia juga menyoroti tentang Objek Wisata Sangkar Burung yang sudah mempergunakan anggaran sangat besar dan menjadi kebanggaan warga Siak selama ini, tapi pihak instansi terkait tidak menghiraukan Objek wisata tersebut dan berkurangnya pendapat asli daerah.

“Hal tersebut menjadi sorotan berbagai elemen dan social control karena lokasi tersebut menjadi hutan yang tidak terawat menjadi hutan belantara, ” ungkapnya.

Sangat disayangkan perjuangan Bupati Samsuar yang terdahulu, sementara itu pejabat pemerintahan yang sekarang ini pada saat Samsuar menjabat Bupati dan menjadi Wakil Bupati, Alferdi.

Dalam program pembangunan Objek Wisata Sangkar Burung ini sudah menjadi prioritas, tapi sesudah menjabat definitif jadi kepala daerah (Bupati Objek Wisata sangkar Burung jadi terbengkalai dan tidak dapat difungsikan yang membuat para pengunjung kecewa dan saat ini bagaikan hutan belantara tidak ada penghuninya, ” kata Sharundin.

Ketua DPC LSM Forkorindo Kabupaten Siak sangat heran, bahwa bangunan Sangkar Burung sebagai Objek Wisata selama beroperasi dana pendapatan dari pengunjung sebagai PAD diamankan untuk perawatan burung.

Lebih lanjut dikatakan kepada para awak media di kantornya bahwa, pada saat kunjungan baru-baru ini ke tempat Objek Wisata Sangkar Burung tersebut hanya tinggal burung hantu satu dan tiga burung Dara/Merpati. Jadi selama ini kemana burung yang ada di sangkar tersebut, hal ini menjadi pertanyaan besar, ” pungkasnya.

(TB/Red)

Komentar